Sumbu Filosofi Diharapkan Jadi Role Model Pengembangan Kawasan Pariwisata Berkelanjutan
- Administrator
- Rabu, 25 Februari 2026 08:34
- 29 Lihat
- Liputan
YOGYAKARTA — Fenomena overtourism yang terjadi di sejumlah destinasi dunia menjadi pengingat bagi Yogyakarta untuk tidak terjebak pada pola pertumbuhan pariwisata berbasis keramaian semata.
Hal itu disampaikan Founder Jogjalink, Ibnu Prabowo, dalam Rooftalk #2 bertajuk “Sumbu Filosofi: Role Model Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan” yang digelar di Rooftop Pasar Prawirotaman, Yogyakarta, Selasa (24/2/2026).
Ibnu menyinggung sejumlah kota wisata yang mengalami penurunan kualitas lingkungan dan identitas akibat pertumbuhan tak terkendali. Menurutnya, Jogja tidak boleh mengulang pola yang sama.
“Banyak destinasi tumbuh terlalu cepat, terlalu padat, dan akhirnya kehilangan jati dirinya. Jogja tidak boleh terjebak di situ. Kita harus memilih memperdalam nilai kawasan, bukan sekadar mengejar keramaian,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Sumbu Filosofi yang berada di jantung kota harus menjadi contoh pengelolaan kawasan berbasis nilai, bukan kepadatan.
“Sumbu Filosofi harus menjadi model bahwa pariwisata itu memuliakan ruang, bukan membebaninya. Yang kita naikkan adalah nilai ekonomi per pengunjung, bukan jumlah pengunjungnya,” tambah Ibnu.
Forum tersebut juga menghadirkan Anggota Komisi B DPRD Kota Yogyakarta, Sigit Nurcahyo, Tenaga Ahli Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Ganang Surya, serta Digital Marketer Semuabisa.org, Andi Wijayanto.
Sigit menegaskan bahwa pembangunan kota, termasuk sektor pariwisata, harus merujuk pada aspirasi masyarakat.
“Aspirasi komunitas, para pemerhati budaya, hingga pelaku UMKM akan selalu menjadi referensi penting bagi pemerintah dalam membangun kota yang lebih baik,” kata Sigit.
Ia menekankan pentingnya menjaga kebersihan, kelestarian, serta visual kota agar pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan identitas kawasan.
Ganang Surya menyoroti makna mendasar Sumbu Filosofi sebagai fondasi pengembangan.
“Sumbu Filosofi bukan sekadar koridor fisik. Ia merepresentasikan relasi manusia–alam–Tuhan. Makna inilah yang harus menjadi pegangan dalam setiap pengembangan pariwisata,” jelas Ganang.
Menurutnya, pemahaman atas nilai filosofis tersebut akan mendorong pengelolaan kawasan yang lebih terukur, beretika, dan menjaga harmoni lingkungan.
Sementara itu, Andi Wijayanto menekankan bahwa konsep tidak selalu mengandalkan keramaian harus diperkuat dengan sistem ekonomi digital.
“Kalau kita tidak ingin bergantung pada kepadatan pengunjung, maka ekonomi harus ditopang digitalisasi. Justru dengan sistem digital, pendapatan bisa semakin naik tanpa membuat kawasan semakin padat,” ujarnya.
Digitalisasi melalui reservasi daring, pembayaran non-tunai, dan e-catalog dinilai mampu menjaga perputaran ekonomi sekaligus mengurangi tekanan fisik kawasan.
Diskusi tersebut menegaskan bahwa pengembangan Sumbu Filosofi diarahkan untuk menjaga kelestarian, kebersihan, dan martabat kota, sekaligus meningkatkan kualitas pengalaman wisata dan nilai ekonomi secara berkelanjutan.
Menutup forum, Ibnu kembali menekankan pentingnya konsistensi arah pembangunan.
“Kita tidak sedang membangun pariwisata yang sekadar ramai, tetapi pariwisata yang bernilai. Kalau nilai dijaga, kelestarian dirawat, dan sistem ditata dengan baik, Jogja tidak hanya bertahan—tetapi memimpin,” pungkasnya.